Ex-Falantil Guerrilla Says: Get Australian Hands Off East Timor!

Joe

Joe hoards and shares.

9 Responses

  1. shahrizalisme says:

    Does anybody ever involve in Free East Timor campaign back in late 90’s or early 2000? If I’m not mistaken Hakim (Romantik ISA), was actively involved in this campaign. It would be great if Hakim or anyone who directly involve could share his experience with us regarding Naldo Rei struggles on East Timor conflict.

  2. the Bebex says:

    Pertama kita bertemu di Jakarta tahun 1995. Di sebuah rumah yang digunakan Student’s Solidarity for Democracy in Indonesia (SSDI/SMID) sebagai office dan central commando untuk semua kegiatan politik, nasional dan internasional. Kita berjumpa untuk last check dan coordination untuk berdemonstrasi di depan Dutch’s Embassy, Kuningan, Jakarta Selatan. Issue besar dan sangat berbahaya saat itu. ‘Mendukung penuh perjuangan kemerdekaan rakyat Maubere/Timor Leste’. Dengan taktik melompat dan masuk ke dalam extra territorial the Dutch.

    pertama kali bertemu Naldo menggunakan nama Puto (bukan nama dia) sebagai seorang pejuang clandestein, itu mengharuskan dia selalu mengggunakan nama samaran.

    Aksi berjalan ramai dan seru. selama beberapa hari di dalam sampai pihak embassy menyerahkan kita kepada pihak kepolisian Indonesia. dan selama beberapa hari (bersama beberapa orang kawan lainnya) setelah itu harus merasai menjadi the most wanted person di Indonesia.
    kami selalu bersama sampai saat kita harus bersembunyi di rumah Kirsty Sword (sekarang istri Xanana Gusmao) di Tebet. Hingga pada suatu malam kita harus berpisah, karena rumah Kirsty Sword sudah tidak aman lagi. Namun pada malam sebelumnya Naldo memberikan aku sebuah shirt bergambar bendera Timor Leste dan memperlihatkan aku photo dia kecil, saat menjadi child soldier, messenger. dengan rambutnya yang keriting membesar. Dan berkata, namaku Naldo Rei.
    aku berucap, suatu hari nanti aku akan ke Timor Leste, mungkin kita boleh berjumpa lagi.

    Oktober, 2005, aku ke Timor Leste. Berjumpa dengan kawan2 lama, ex clandestine dan freedom fighter. mereka katakan, Naldo tidak di Leste saat ini, dia sudah di Australia.

    Dan malam ini aku membaca tulisan tentang dia…

    Viva Povo Maubere!!!

  3. the Bebex says:

    gila boss, ini udah lama banget dan baru sadar ternyata kita sudah tua. Puto akan tertawa jika membaca dan mengingat ini, beberapa jam sebelum kita berpisah kita pergi bersama; Aku, Kirsty Swords dan Puto menonton movie di Kalibata Mall, lepas itu kita berpisah dan menghilang…

  4. Joe Kidd says:

    in 1996, Carburetor Dung, along with ACAB (!) and the non-KLHC hardcore band Another was supposed to play for the conference on East Timor, which was happening at the Asia Hotel in Chow Kit but the night before we supposed to play, the conference was wrecked by the ever reliable UMNO Youth and the police. Tonnes of people were taken in to the Dang Wangi station. We had a vigil outside of the station for a few nights.

    read more: here

  5. shahrizalisme says:

    Thanks for sharing some personal experience about Naldo Rei and Free East Timor Campaign. Now I recall about my coincidental discussion with Aussie guy who told me his terrible experience being harrased by ‘those people’ while attending this Free East Timor conference back in 1996.

    I wish to write up a review here on Naldo Rei’s latest book once I manage to have and read it .

  6. Puto says:

    Kawan lamaku Bebek dan semua solidaritas perjuangan untuk rakyat Maubere dimanapun berada.

    Aku telah membaca artcile ini…namun banyak yang saya tidak setuju sebab banyak yang salah dalam arti tidak seperti yang saya ucapkan dalam wawancara saya dengan Cipi…mungkin dia mempunyai tujuan yang berbeda kata lain dia mempunyai agenda tersendiri. Aku nggak tau apa agenda tersebut. DI Timor-Leste kita sangat membutuh keselamatan walaupun kita mau menjadi suara dari orang yang tak bersuara. Perjalanan yang panjang untuk mengukir sebuah perjuangan untuk pembebasan bagi rakyat Maubere bukanlah gampang tetapi telah menghabisi ratusan jiwa rakyat Maubere itu sendiri.

    Saya sangat berutang pada kawan-kawan lamaku yang telah menyelamatkan nyaku diwaktu yang sangat sulit dan tidak bisa dipungkiri. Aku harus salut pada mereka sebab hanyalah mereka yang aku hormati dan tunduk dalam perjuangan kebebasan ini. Mereka telah ikut berkorban demi kebebasan rakyat Maubere dari tirani. Aku sangat berterimakasih kepada ibu-ibu mereka yang telah melahirkan anak-anaknya untuk membela kaun tertindas dari bumi ini. Lebih-lebih rakyat Timor-Leste yang telah dibantai dan dibunuh, dipenjara oleh regime Suharto. Kawan Bebek merupakan sebuah contoh yang kita harus patutkan karena telah menyetujui hidupnya untuk berdiri digaris merah untuk membela rakyat Maubere dari cengkraman militer Suharto yang sangat kejam dan siap membunuh siapa saja yang mencoba memisahkan Timor-Leste dari bagian Indonesia.

    Sejarah perjuanganmu kawan masih tertulis dalam hati kecilku dan sejarah rakyak Maubere diseluruh pelosok tanah air.

    The land and the rocks, betel nut and the pepper, water and the fire, wake up and stand up with me. In the wartime I whispered your name to protect me, to liberate Maubere people from the darkness. The spirits of those people have died for the sacred land of East Timor, wake up and stand up with me. The rosters crock on the top of the mountains Ramelau, Kablaki, Matebian and Paicau. Maubere people wake up, the sun has risen, Scream loudly, the white stars light has guided Independence to us to free. Lets sing and dance freely in our own land Timor-Lorosae.

    Salam juang,
    Naldo Rei (Puto Oan Kiak Funu)

  7. shahrizalisme says:

    At last, the person himself, Naldo Rei/Puto has spoken up. Thanks Puto for your clarification. I wish you luck for your struggle towards East Timor’s self-determination, liberation and independent. You’ll never walk alone. May the force be with you!

    Salam juang from Melbourne, OZ
    Cheers,
    Shah

  8. the Bebex says:

    Obrigado, meu camarada.
    Aluta Continua!

Leave a Reply